Posisi Pengajar/Dosen
August 3rd, 2010Menjadi dosen atau pengajar, tentu saja termasuk guru dalam semua tingkatan mendapatkan posisi yang sangat terhormat. Dalam hirarki kemuliaan akademik, menjadi pengajar mendapatkan posisi pertama. Nabi Muhammad pernah berkata, “Kun aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban, wa la takun khomisan, fatahlik!”. Jadilah kamu pengajar, atau pembelajar, atau pendengar, atau pecinta, dan jadi yang (golongan yang ) kelima, maka kamu akan rusak.
Menjadi pengajar merupakan pilihan pertama anjuran Nabi. Tentu saja konteks Hadits ini tidak hanya pada lembaga pendidikan formal di mana menjadi pengajar adalah sebuah pilihan profesi. Pada saat Nabi, nampaknya belum ada lembaga pendidikan formal. “Lembaga pendidikan” yang terekam pada saat itu adalah rumahnya Al-Arqom (Darul Arqom), di mana Nabi sering bertemu dengan sahabat dan berbagi wakyu yang diterimanya. Dalam konteks ini, setiap orang, siapapun dia, dapat menjadi pengajar.
Nabi Muhammad pernah berpesan, “Ballighu ‘anni walau ayatan”, sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat. Secara implisit, pesan ini meminta kita untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain, meskipun sedikit: menjadi pengajar.
Jika kita belum mampu menjadi pengajar, kata Nabi, jadilah pembelajar. Orang dengan rasa ingin tahu tinggi dan selalu haus ilmu. Dalam banyak kesempatan sebagai terekam dalam Al-Hadits, posisi pembelajar sangat dihargai. Beberapa hadits berikut dapat menguatkan klaim ini:
“Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah”
“Tuntutlah ilmu, mulai dari ayunan, sampai liang lahat!”
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China!”
Belajar bukan pekerjaan ringan. Perlu komitmen dan ketekunan. Tanpanya, aktivitas belajar agak menjadi sangat berat.
Suatu saat dalam perjalanan ke Eropa saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu. Si Ibu tersebut dengan rombongan lain akan berwisata ke beberapa negara di Eropa. Meskipun baru kenal sebentar, si Ibu bercerita cukup banyak. Ketika tahun kalau saya dosen, dan sedang menengok anak dan istri yang sedang belajar, dia berkomentar pendek, “Apa tidak capek belajar terus? Saya selesai S1 saja sudah merasa capek.” Ungkapannya sangat serius, tanpa bermaksud melecehkan. Memang si Ibu profesinya adalah pengusaha, dan saya yakin dia tetap belajar banyak meskipun tidak duduk di bangku lembaga formal.
Belajar dapat dilakukan di mana saja, dengan modal utama rasa ingin tahu (curiosity). Tanpa rasa ingin tahu, atau bahkan sudah disibukkan dengan ide-ide sendiri tanpa keinginan mendengarkan dari orang lain, belajar nampaknya sulit dilakukan.
Dalam sebuah cerita Zen, Guru Nan-in mempunyai seorang tamu yang ingin belejar tentang Zen. Si tamu bukannya mendengarkan Nan-in, tetapi malah banyak berbicara tentang ide-idenya sendiri. Sesaat kemudian, Nan-in menghidangkan teh. Nan-in menuangkan teh ke cangkir si tamu sampai penuh, dan tetap menuang sampai tumpah. Akhirnya, si tamu menyela, “Tidakkah Guru lihat kalau cangkirnya sudah penuh?.” “Cangkirnya sudah tidak muat lagi”, lanjutnya.
“Benar,” kata Guru Nan-in, dan akhirnya berhenti menuang. “Seperti sebuah cangkir, Anda sudah terisi dengan ide-ide sendiri. Bagaimana Anda mengharapkan saya untuk dapat memberimu Zen sampai Anda memberikan kepada saya cangkir kosong?”
Jika karena suatu keadaan kita tidak atau belum bisa menjadi pengajar atau pembelajar, pilihan ketiga adalah menjadi pendengar. Mendengar adalah sebuah pilihan sadar yang harus diikuti dengan kemauan meluangkan pikiran untuk dapat meningkatkan kualitas diri. Mendengar dengan baik tidak dapat dilakukan jika pikiran penuh. Mendengar dalam konteks ini adalah yang terkait dengan aktivitas menuntut ilmu, bukan mendengarkan yang bersifar rekreasional, seperti mendengarkan musik melalui iPod kesayangan.
Jika masih saja tidak bisa? Masih ada pilihan keempat, jadilah pencinta. Pencinta pengajar, pembelajar, dan pendengar ilmu. Nampaknya karena itulah, banyak orang-orang yang desa saya sangat senang berkunjung ke ulama atau kiai. Selain mereka suka mendengarkan nasihat, mereka ada pada pencinta ilmu. Mereka merasa nyaman dapat bertemu dengan para ulama dan kiai yang dengan tulusa menyebarkan ilmu kepada para santrinya.
Tetapi, Nabi mengingatkan, jadi menjadi golongan kelima. Orang yang tidak termasuk pengajar, pembelajar, pendengar, dan pencinta. Kita bisa berikan daftar golongan ini, termasuk pembenci ilmu, pembenci pengajar, pembenci pembelajar, pembenci pendengar, dan pencinta ilmu. Kelompok air-headed yang isi kepalanya udara, alias tidak mengetahui apa-apa karena pilihannya untuk tidak mau repot berpikir dan cenderung hedonis nampaknya juga masuk dalam kelompok ini.
Posted by Fathul Wahid