Ojek: Dunia Paralel atau Kesenjangan Digital?

October 29th, 2016

Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Yang dulunya, ojek dilayani menggunakan sepeda, akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan handal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam.

Mulai sekitar lima tahun lalu, layanan ojek di Indonesia, mendapatkan warna baru, dengan hadirnya layanan ojek berbantuan aplikasi bergerak. Di awal kemunculannya, beberapa gejolak penolakan terekam dalam media cetak dan digital. Namun, saat ini berita serupa sudah tidak banyak ‘terdengar’.

Pesatnya kepemilikan ponsel pintar menjadi salah satu peluang yang dimanfaatkan pemain bisnis ini. Sampai kini, telah banyak pemain yang mencoba peruntungan di sektor ini.

Pertanyaannya adalah: apakah kehadiran ojek berbasis aplikasi ini mengganggu ojek tradisional? Jawaban singkatnya: bisa ya, bisa tidak. Tergantung. Obrolan saya dengan beberapa pengojek memberikan jawaban yang lebih realistis.

“Dulu, saya mengira kalau kehadiran ojek berbasis aplikasi akan banyak mengganggu,” ungkap Fulan, seorang pengojek. Fulan merasakan dua dunia ‘perojekan’ tersebut di atas. “Namun, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” lanjutnya. Mengapa?

Pertama, pasar ojek tradisional dan berbasis aplikasi berbeda. Yang pertama biasanya mempunyai paguyuban dan tempat mangkal bersama, seperti di dekat stasiun kereta api atau terminal bis. Pasar mereka adalah penumpang moda transportasi publik tersebut yang ingin melanjutkan perjalanan atau yang tidak mempunyai aplikasi terinstal di ponselnya. Ojek berbasis aplikasi mempunyai pasar spesifik, seperti kalangan muda dan mahasiswa. Kata Fulan, mereka tidak pernah atau jarang menggunakan layanan transportasi publik.

Kedua, penghasilan normal per hari tidak berbeda jauh. Fulan menyebut kisaran angka. Memang ketika menjalankan ojek berbasis aplikasi, uang yang didulang per hari lebih tinggi. Namun, ojek jenis ini membutuhkan biaya tambahan seperti potongan sekian persen untuk pengelola, dan biaya sewa jaket atau helm. Selain itu, ojek jenis ini harus ‘berkeliaran’ yang membutuhkan bensin 1,5 sampai 2 kali lipat daripada ojek yang ‘mangkal’.

Ketiga, Fulan menyebutkan bahwa pengojek tradisional mempunyai ritme yang lebih santai. Pengojek berbasis aplikasi, kata Fulan, sering mengejar bonus dengan mengumpulkan poin. Pengejaran ini seringkali tidak selalu mulus, karena banyak hal, seperti pesanan fiktif dan pembatalan pesanan. Aturan yang semakin ketat dari pengelola, menjadikan pengojek berbasis aplikasi kadang harus berpikir dua kali.

Tentu, pengojek lain mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Fulan. Yang jelas, selain harus mempunyai ponsel pintar, pengojek berbasis aplikasi harus mampu mengoperasikan aplikasi di ponsel. Sebagian besar pengojek adalah muhajir digital (digital migrant) yang tidak mengenal ponsel sejak kecil. Namun di lapangan ditemukan, meski mempunyai dua kemampuan tersebut, tidak semua pengojek tradisional tertarik menjadi pengojek berbasis aplikasi, karena beragam alasan. Ini adalah pilihan sukarela.

Jika ini kasusnya, apakah fenomena ini merupakan kesenjangan digital ataukah pilihan sukarela, yang membentuk ‘dunia paralel’: dua dunia yang berjalan dengan asumsi dan caranya masing-masing. Paling tidak, sampai saat ini dan beberapa tahun ke depan.

Mengapa? Fulan percaya, bahwa ke depan, bisnis ojek berbasis aplikasi lebih menjanjikan. Ojek jenis ini melampaui layanan yang dapat diberikan oleh ojek tradisional. Bantuan pengantaran beragam produk dan layanan lain, adalah contohnya. Ketika ojek berbasis aplikasi semakin meluas di setiap pojok Indonesia, cerita lain bisa jadi akan muncul. Ketika para pribumi digital (digital native) masuk bisnis ini, bukan tidak mungkin kesenjanganlah yang membesar. Kehadiran teknologi informasi, alih-alih membawa semangat inklusi yang merangkul semua kalangan, justru akan memperlebar kesenjangan digital. Ujungnya, kesenjangan sosial yang tidak diharapkan. Wallahu a’lam.

Tulisan ini telah dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat pada 29 Oktober 2016
dengan judul yang lebih pendek “Kesenjangan Digital”.



Publikasi Internasional Akademisi Indonesia

September 11th, 2011
Ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui publikasi yang berkualitas, sebagai salah satu indikator penelitian yang berkualitas. Dalam tradisi akademik Amerika, dikenal sebuah adagium ‘publish or perish’, melakukan publikasi atau binasa/hancur. Kalangan akademik dituntut untuk produktif dalam menghasilkan publikasi berkualitas. Tuntutan ini juga yang nampaknya menjadikan akademisi Amerika selalu menjadi yang [...]

Teori vs praktik

June 20th, 2011
Pada tahun 1945, Kurt Lewin, cendekiawan yang dikenal dengan bapak psikologi sosial menuliskan dalam salah satu bukunya “There is nothing more practical than a good theory.” Hal yang kontras saya temukan pada sebuah seminar yang saya ikuti beberapa hari yang lalu yang menyatakan “teori dianggap sebagai omong kosong”. Mana yang benar? Jawabannya tergantung pada apa [...]

Perempuan dan Teknologi Informasi

April 26th, 2011
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kartini, sebagai tonggak kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang. Indikator kesetaraan pada zaman Kartini hidup adalah kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, dan kesetaraan dalam bidang ini masih sangat relevan sampai sekarang, disamping kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan non pertanian dan berpolitik, seperti [...]

e-Government dan Anti-Korupsi

April 26th, 2011
Beberapa hari yang lalu, Transparency International (http://www.transparency.org) yang bermarkas di Berlin, kembali meliris peringkat teranyar tingkat korupsi negara-negara di dunia. Dan, pemenang tahun 2010, sebagai negara paling korup adalah … Somalia. Somalia menduduki peringkat paling bontot, 178, dengan Corruption Perceptions Index (CPI) sebesar 1,1 (dari nilai tertinggi 10). Somalia telah menduduki posisi ini dalam empat [...]

Riset = Prostitusi?

November 20th, 2010
Beberapa minggu lalu, salah satu kelas pertemuan matakuliah Theoretical Foundations in Information Systems yang saya ambil, menghadirkan dosen tamu dari universitas tetangga. Profesor ini berasal dari Perancis tetapi sudah malang melintang di banyak negara, lintas benua. Ada pernyataan menarik yang dia lontarkan di kelas sebagai otokritik, tanpa bermaksud menyinggung siapa-siapa. “Research in some cases are [...]

First Thing First!

November 8th, 2008
Setiap orang mempunyai tanggung jawab. Bahkan, banyak orang yang mempunyai tanggungjawab lebih dari satu. Setiap tanggungjawab harusnya dijalankan dengan baik. Hanya saja seringkali kapasitas tidak bisa mengakomodasi semuanya. Di sinilah saatnya kita harus mempunyai kepekaan tentang mana yang seharusnya didahulukan, mana yang bisa ditunda, dan mana yang mungkin harus kita lupakan.  Tanggungjawab ada yang bersifat wajib [...]

Servant Leadership

November 5th, 2008
Kepemimpinan Pelayan, begitu kalau diterjemahkan secara langsung. Istilah servant leadership sendiri dalam literatur modern muncul pada awal 2000a. Saya teringat, dalam hazanah sejarah Islam, praktek servant leadership sangat jelas maujud dalam diri Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Istilah servant leadership diperkenalkan oleh Greenleaf dalam bukunya yang berjudul Servant Leadership: A Journey into the nature of [...]

Down to Earth

November 4th, 2008
Tadi pagi dalam running text sebuah televisi swasta muncul teks yang menarik perhatian tetapi sekaligus membuat miris. “Hungry Congo refugees got soap, no food”. Pengungsi Kongo yang kelaparan mendapatkan sabun, bukan makanan. Mereka tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan, tetapi mendapatkan apa yang menurut pemberinya dibutuhkan. Kasus seperti ini bukanlah satu-satunya. Masih banyak kasus [...]

Kaku vs. Tegas

October 9th, 2008
Sebetulnya tidak mengagetkan ketika ada yang mengatakan bahwa ketegasan adalah sebuah kekakuan. Tergantung kepada posisi dan niat awal orang tersebut. Ketika seseorang menginginkan kelonggaran atas peraturan yang ada yang dalam budaya Indonesia dengan “kebijaksanaan”, predikat “kaku”lah yang muncul. Lain halnya jika tegaknya peraturan yang diinginkan. Predikat “tegas” dan pujian yang akan disematkan. Kaku, tegas, atau fleksibel [...]